Do the Best in your life, don't give up and keep smiling :D

Minggu, 17 November 2013

lembaran baru

haaayyy... akhirnya aku kembali menulis blog yg selama ini terlewatkan
aku kembali dengan cerita baru lhoo.. pasti udah tau cerita apa? cinta ? yapp...
aku membuka lembaran baru alias cerita cinta yang baru, tapi ini bukan hanya sekedar cerita tapi menjadi sebuah kisah nyata yang sedang aku alami. apalagi kalau bukan perasaan yang berbunga-bunga.. 
kisah cinta ku kali ini jatuh pada seseorang yang dibilang ganteng "engga" tapi gendud "iya" . Aneh sih, tapi perasaan ini sudah mendalam lebih dari yang aku kira bahkan lebih dari sebelumnya.. 
Dia itu sosok yang baik, pengertian, friendly, humoris, dewasa, setia dan perhatiiiaaan banget.. Dia itu bukan hanya bisa jadi pacar, tapi dia juga bisa jadi sosok temen, sahabat, abang, bahkan bisa jadi sosok lelaki di masa depan.. Mungkin ini berlebihan, tapi ini berdasarkan yang selama ini aku rasakan..

aku mengenal dia sejak aku semester 2 kemarin, tapi mungkin saat itu posisinya kita sama2 belum dipertemukan cinta nya. . dan entah kenapa kita tidak bisa menjelaskan kapan perasaan kita datang. Mungkin berawal dari terbiasa berkomunikasi, yang membuat kita nyaman dan membuat kita menyatakan perasaan ini.. yap .. (14/Juni/2013).. Tetapi pernyataan kita tersebut belum meyakinkan bahwa kita bersatu. Perlu proses panjang dan kesiapan , sehingga pada saat yang tepat dia meminta ku untuk mendampingi nya. (29/Juni/2013).. saat itu dia datang jauh2 hanya untuk memintaku untuk mendampinginya. . Sejak saat itu aku memberanikan diri untuk mengenalkan dia dengan teman2, dengan sahabat2, bahkan dengan keluargaku sendiri. Alhamdulillah keluarga fine2 aja menerima nya.. 

Hari demi hari kita lewati bersama walaupun dipisahkan oleh jarak. tapi hal itulah yang membuat kita harus berjuang mempertahankan cinta ini, berjuang mengalahkan rasa kangen, berjuang mengalahkan rasa cemburu dsb. Semakin lama bersama nya, semakin membuat kita yakin bahwa kita bisa menggapai impian kita bersama.. Hal yang paling aku senangi ketika dia mengucapkan "semoga kita jodoh", "belajar jadi bini", "mudah2an nanti kita bisa sampai nikah".. Banyak hal dan pemikiran yang baru aku alami denngan nya.. Perbincangan kita pun tidak hanya sekedar melepas rindu, tapi juga memikirkan masa depan kita.. semoga dari sebuah pemikiran itu masa depan kita terwujud.. Bismillah, pasti bisa! Berdoa yah :D
Miss you and love you my future :D

Selasa, 25 Juni 2013

Makalah superovulasi

MAKALAH TEKNOLOGI REPRODUKSI
TEKNIK SUPEROVULASI






OLEH :
KELOMPOK IV

 FANDI RESTU M                          D1E009184
MUHAMAD NUR SIDIK                D1E011139
DINDA YOSI AMANDA                D1E011179
RISMAN ISMAIL                            D1E011014
MUHAMMAD ROSDIAN U          D1E011066
VANY SILVANA F                         D1E011105
INDRA GUNAWAN                       D1E011165
NANIK TRIYATI S                          D1E011247
SHELLY JUM’ANIAR                    D1E011264




KEMENTERIAN  PENDIDIKAN  DAN  KEBUDAYAAN  NASIONAL
FAKULTAS  PETERNAKAN
UNIVERSITAS  JENDERAL  SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013








BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
Dalam upaya menjadikan subsektor peternakan sebagai pendorong kemandirian Pertanian Nasional, dibutuhkan terobosan pengembangan sistem peternakan. Dalam percepatan penciptaan bibit unggul ternak, aplikasi bioteknologi reproduksi pada taraf rekayasa proses dan rekayasa genetik seperti MOET (Multiple Ovulation  and Embyo Transfer) , IVF (In Vitro Vertilization), transfer inti, menjadi pilihan strategis yang sangat tepat.
Ternak sapi secara alami hanya dapat menghasilkan anak 6-8 ekor sepanjang hidupnya, meskipun sebenarnya memiliki puluhan ribu potensi oosit. Dalam ovarium sapi terdapat sekitar 140.000 oosit sampai sapi mencapai umur empat sampai enam tahun dan kemudian jumlahnya menurun sampai 25.000 pada umur 10 sampai 14 tahun dan mendekati nol pada umur 20 tahun.
Potensi oosit sapi yang cukup banyak tersebut dapat dioptimalkan dengan introduksi bioteknologi reproduksi antara lain melalui superovulasi (SOV), sehingga sapi unggul dapat menghasilkan anak jauh lebih banyak semasa hidupnya. Superovulasi adalah upaya stimulasi perkembangan folikel dan induksi ovulasi ganda dengan penggunaan hormonal seperti gonadotrophin.
Salah satu masalah utama dalam  program transfer embrio adalah tingginya   variabilitas respon terhadap superovulasi pada induk donor. Padahal kuantitas dan kualitas embrio donor sangat berpengaruh terhadap keberhasilan transfer embrio. Superovulasi merupakan kunci keberhasilan transfer embrio dan tidak hanya ditentukan oleh tingginya laju ovulasi dan jumlah embrio yang diperoleh, tetapi superovulasi dipengaruhi juga oleh berbagai faktor seperti faktor-faktor yang mempengaruhi respon superovulasi pada induk donor, faktor yang mempengaruhi fertilisasi dan viabilitas embrio serta faktor yang berhubungan dengan manajemen induk donor. Hormon yang umum digunakan untuk menginduksi superovulasi pada sapi adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang berasal dari hipofisa. FSH merupakan hormon glikoprotein yang mempunyai waktu paruh yang pendek, sehingga memerlukan pemberian secara berulang untuk merangsang aktivitas folikel secara lebih efisien. Berbagai penelitian pengaruh pemberian hormon terhadap respon superovulasi pada induk donor telah dilakukan yaitu dengan menggunakan PMSG, FSH Ovagen, FSH-PTM (FSH from pituitary) baik pada sapi potong maupun sapi perah . Berdasarkan latar belakang tersebut, memerlukan pembahasan lebih lanjut.
1.2.   Tujuan
1.      Mengetahui fungsi dari pengaplikasian teknik super ovulasi dan induksi ovulasi.
2.      Mengetahui hormon- hormon yang di gunakan dalam teknik super ovulasi.
3.      Mengetahui cara melakukan superovulasi dan induksi ovulasi pada ternak.
1.3.   Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud superovulasi?
2.      Hormon apa saja yang digunakan dalam teknik superovulasi?
3.      Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi keberhasilan superovulasi?
4.      Bagaimana tingkat keberhasilan teknik superovulasi?









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
  Superovulasi adalah ovulasi sejumlah besar ovum dari seekor betina pada suatu saat dengan penggunaan berbagai hormone. Hormone-hormon tersebut adalah Pregnant Mare Serum (PMSG) atau Follicle Stimulating Hormone (FSH), untuk merangsang pertumbuhan folikular yang di ikuti oleh luteinizing hormone (LH) atau human chorionic gonadotrophin (HCG) untuk merangsang ovulasi (Frandson,1992)
Sampai saat ini terdapat 2 tipe hormon yang paling sering digunakan untuk tujuan superovulasi yakni pregnant mare serum gonadotrophin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH). Kedua hormon ini masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bila dibandingkan dengan penggunaan PMSG, respon ovarium terhadap hormon FSH biasanya lebih baik karena lebih banyak menghasilkan ovulasi, jumlah folikel anovulasi lebih sedikit, lebih banyak embrio yang dapat diperoleh, dan kualitas embrio lebih baik. Kelemahan dari FSH adalah dapat sukar diperoleh di pasar domestik, harganya relatif mahal, dan pemberiannya harus berulang-ulang sehingga mengakibatkan stress dan menurunkan kualitas embrio (Putro, 1996).
Menurut  Hunter (1995),  hormon yang umum digunakan untuk menginduksi superovulasi pada sapi adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang berasal dari hipofisa. FSH merupakan hormone glikoprotein yang mempunyai waktu paruh yang pendek, sehingga memerlukan pemberian secara berulang untuk merangsang aktivitas folikel secara lebih efisien. Tahapan superovulasi adalah sebagai berikut:
1.      Sinkronisasi berahi; Penyuntikan hormone Prostaglandin (PG) sebanyak 2 kali dengan jarak waktu 11 hari.
2.      Superovulasi; Penyuntikan PMSG pada hari ke-10 setelah terjadi berahi, dilanjutkan dengan penyuntikan Prostaglandin pada hari ke-2 setelah penyuntikan PMSG dan langsung dicampur dengan pejantan (dilakukan pengamatan perkawinan).
Faktor intrinsik meliputi genetika (keturunan dan individu hewan yang lebih atau kurang sensitif terhadap gonadotropin), fisiologis karakteristik (termasuk usia, kondisi ovarium atau folikular dominasi, dan populasi folikel pada saat superovulasi), status gizi (tubuh kondisi dan defisit atau kelebihan zat gizi) dan kondisi sanitasi (ovarium, rahim dan saluran telur patologi).
Faktor ekstrinsik mencakup penggunaan berbeda komersial persiapan FSH (rekombinan atau hipofisis yang diturunkan FSH dengan berbagai jumlah LH, EKG, HMG, dan inhibin), dosis, rute dari aplikasi, musim, dan manajemen pertanian (Sorensen, 1979). Ketat evaluasi pengaruh ini faktor produksi embrio dapat memberikan kontribusi yang lebih baik merencanakan program transfer embrio, dengan lebih perhatian diberikan kepada faktor yang paling relevan.
Inisiasi sebuah folikel gelombang menggunakan perawatan ini memungkinkan awal superstimulation pada tahap acak dari oestrous siklus (Lauria, 1982). GnRH pengobatan dan ablasi folikel pada setiap tahap dari siklus oestrous menawarkan keuntungan dari initiating superstimulatory pengobatan segera dan memastikan bahwa pengobatan bertepatan dengan saat munculnya gelombang folikel sehingga suatu respon superovulatory yang optimal dapat dicapai. Selanjutnya, siklus oestrous seluruh tersedia untuk superstimulation, menghilangkan kebutuhan untuk deteksi estrus dan menunggu 8 sampai 12 hari sebelum memulai pengobatan gonadotropin (Amstrong, 1983.).
Jumlah embrio ditransfer dikumpulkan tidak meningkat oleh pengobatan GnRH dan follicular aspirasi 2 hari sebelum superstimulation, meskipun respon ovulasi meningkat perawatan ini (Lauria, 1982). Efeknya sinkronisasi folikular dengan GnRH pada horMonal dan folikel respon sebelum dan selama superovulasi telah ditandai (Lauria, 1982.) tetapi pengaruhnya terhadap produksi embrio memilikibelum didefinisikan dengan jelas.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.   Hasil

Keterangan : Gambar 1 ( Hormon FSH untuk injeksi )
                       Gambar 2 ( Hormon FSH untuk implant)
Metode yang digunakan : Injeksi dan Implan
3.2.     Pembahasan
Superovulasi masih merupakan suatu cara yang paling umum digunakan untuk meningkatkan jumlah keturunan dari sapi betina unggul secara cepat, selain itu  superovulasi sering juga disebut multipleovulasi yaitu salah satu upaya meningkatkan efisiensi reproduksi, terutama terhadap hewan yang secara alami tergolong beranak tunggal. Istilah superovulasi lebih populer daripada multipleovulasi. Pada multipleovulasi cenderung hanya mengacu pada arti kwantitas atau jumlah yang lebih banyak. Sedang superovulasi dapat meliput kedua pengertian, yaitu kwantitas dan kwalitas atau lebih baik dan lebih banyak,  dengan pengertian bahwa dalam program superovulasi sekaligus melakukan seleksi, memilih hanya terhadap hewan yang mempunyai nilai genetis superior (dijadikan induk donor) yang dilipatgandakan jumlah sel telurnya setiap kali peristiwa ovulasi. Kemudian dilakukan insemenasi buatan, IB (fertilisasi in vivo) sehingga diperolah embrio dengan kwalitas unggul dan jumlah lebih banyak, yang selanjutnya dicangkok (transfer embrio) pada induk-induk resipen.
Sementara ini superovulasi baru diterapkan pada spesies sapi dalam program breeding untuk menunjang pemberdayaan bioteknologi reproduksi transfer embrio. Berbagai faktor banyak yang mempengaruhi keberhasilan perolehan embrio, antara lain adalah respon individu dari sapi donor tersebut terhadap perlakuan hormonal. Respon individu sapi donor banyak dipengaruhi kecermatan memilih waktu yang tepat, saat terjadinya gelombang folikuler yang terjadi pada setiap siklus birahi.
Berdasarkan teori masa lalu, gelombang folikuler diperkirakan terjadi pada pertengahan siklus birahi yang sekaligus pertengahan fase luteal, yaitu berkisar antara hari ke 9 sampai ke 12 mengacu pada lamanya siklus birahi sapi yang rata-rata 21 hari (18-24 hari). Hari-hari antara 9-12 itulah yang sementara ini diyakini sebagai hari-hari baik untuk melaksanakan program superovulasi, yang hasilnya ternyata juga tidak pasti atau bersifat untung-untungan. Pada penelitian terbaru ternyata gelombang folikuler tidak selalu terjadi pada petengahan siklus birahi dan pertengahan fase luteal sebagaimana keyakinan selama ini. Lebih dari itu gelombang folikuler juga tidak hanya teradi satu kali saja. Tergantung fertilitas masing-masing individu, pada sapi terdapat tiga pola gelombang folikuler, yaitu masing-masing satu, dua atau tiga gelombang folikuler .
Superovulasi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan ovum  lebih banyak dibandingkan dengan keadaan normalnya dengan memberikan hormon dari luar , untuk merangsang terjadinya ovulasi ganda, maka diberikan hormon superovulasi sehingga diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon gonadotropin seperti Pregnant Mare’s Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH). Penyuntikan hormon gonadotropin akan meningkatkan perkembangan folikel pada ovarium (folikulogenesis) dan pematangan folikel sehingga diperoleh ovulasi sel telur yang lebih banyak. Hormon FSH mempunyai waktu paruh hidup dalam induk sapi antara 2-5 jam. Pemberian FSH dilakukan sehari dua kali yaitu pada pagi dan sore hari selama 4 hari dengan dosis 28 - 50 mg (tergantung berat badan). Perlakuan superovulasi dilakukan pada hari ke sembilan sampai hari ke 14 setelah berahi.
          Menurut Hunter  (1995), FSH berfungsi merangsang pertumbuhan folikel yang muda menjadi matang, sehingga dapat diovulasikan dan siap difertilisasi setelah inseminasi. Penyuntikan FSH (pituitary FSH) dengan dosis menurun dan pada 48 jam sesudahnya diberi pada sapi Holstein juga menghasilkan jumlah embrio hasil koleksi dan jumlah embrio layak transfer yang lebih tinggi dibandingkan dengan penyuntikan tunggal (Takedomi et al., 1993). Dhanani et al. (1991) melakukan penyuntikan FSH terhadap sapi Brahman menghasilkan jumlah CL rata-rata sebesar 10,6 per induk, jumlah embrio koleksi sebanyak 7,2 dan jumlah embrio layak transfer sebanyak 5,5 embrio per induk.
Superovulasi di Balai Embrio Ternak sudah lama dilakukan sejak Balai Embrio Ternak tersebut berdiri. Superovulasi yang telah dilakukan menggunakan 2 metode  yaitu metode injeksi dan implan. Metode injeksi dengan menyuntikkan ternak sapi di bagian subcutan dan metode implant dengan cara memasukkan sidar yang telah mengandung hormon FSH ke bagian tuba fallopi ternak sapi tersebut.
Superovulasi dapat diinduksi secara buatan melalui pemberian hormon  gonadotropin eksogen (berasal dari luar tubuh), misalnya Follicle Stimulating
Hormon (FSH) dan Pregnant Mare Serum Gonadotropine (PMSG). Pemberian hormon tersebut dengan dosis tertentu akan menstimulasi proses pertumbuhan, perkembangan, pematangan dan ovulasi dari sejumlah besar folikel  pada ternak sapi. Betina donor diinjeksikan setiap hari dengan FSH yang dapat berasal dari ekstrak hipofise babi dan domba atau dari ekstrak hipofise sapi. Donor tertentu akan memerlukan penambahan LH selain FSH, namun umumnya preparat FSH yang dijual sudah  ditambahkan dengan LH. (Lopez, 2005)
Preparat hormon yang sudah sering digunakan dan diteliti untuk superovulasi adalah preparat hormon PMSG.Tetapi memiliki beberapa efek samping yang dapat menyebabkan gangguan reproduksi seperti terjadinya folikel sistik. Dosis yang terlalu tinggi pada superovulasi dapat menyebabkan stimulasi ovarium yang berkepanjangan, hal  ini dapat menimbulkan sistik folikel dan dapat pula menimbulkan berkurangnya kualitas sel telur yang dihasilkan (Hermadi et al., 2005). Maka diperlukan hormon alternatif seperti hMG (Human Menopause Gonadotropin)yang memiliki fungsi FSH-LH like dengan proporsi yang lebih seimbang dan diharapkan dapat memperkecil ataupun meniadakan jumlah folikel yang tidak terovulasikan.
Parameter keberhasilan suatu usaha superovulasi dapat dilihat dari beberapa
faktor. Salah satu faktor yang diperiksa untuk menentukan faktor keberhasilan  superovulasi adalah penghitungan korpus luteum (CL) yang ada. Penghitungan CL sering dipakai pada penelitian mengenai superovulasi untuk mengukur keberhasilan superovulasi. Korpus luteum merupakan kelanjutan dari rongga folikel yang telah  berovulasi yang mengalami proses luteinisasi yang membentuk tenunan–tenunan dan mensekresikan hormon progesteron. (Hardopranjoto, 1995). Sehingga dengan menghitung jumlah CL yang ada maka dapat diketahui tingkat keberhasilan hormon gonadotropin dalam menginduksi folikel-folikel yang berovulasi pada usaha superovulasi. Faktor lainnya adalah jumlah embrio yang didapat setelah diflushing.  Efisiensi dari usaha superovulasi sendiri terpengaruhi oleh adanya abnormalitas yang  muncul, seperti adanya folikel anovulatorik atau folikel sisa / yang tidak terovulasikan dari superovulasi (Lopez A. et al., 2005).



BAB III
PENUTUP
3.1.     Kesimpulan
Superovulasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan ovum  lebih banyak dibandingkan dengan keadaan normalnya dengan memberikan hormon dari luar, Tahapan superovulasi adalah sebagai berikut:
1.      Sinkronisasi berahi; Penyuntikan hormone Prostaglandin (PG) sebanyak 2 kali dengan jarak waktu 11 hari.
2.      Superovulasi; Penyuntikan PMSG pada hari ke-10 setelah terjadi berahi, dilanjutkan dengan penyuntikan Prostaglandin pada hari ke-2 setelah penyuntikan PMSG dan langsung dicampur dengan pejantan (dilakukan pengamatan perkawinan).
Hormon yang banyak digunakan untuk rekayasa superovulasi adalah hormon gonadotropin seperti Pregnant Mare’s Serum Gonadotripin (PMSG) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH).
3.2.     Saran
                    1.   Metode superovulasi tidak boleh terlalu sering dilakukan karena dapat merusak siklus ovulasi terhadap ternak tersebut.









DAFTAR PUSTAKA
Hunter, R. H. F., 1995. Fisiologi dan Teknologi Reproduksi Hewan Betina Domestik.
              Penerbit ITB. Bandung.p: 42, 51 – 56, 73 – 97, 281
Lopez.A, Veiga., Bulnes A., Gonzales et al. 2005. Causes, characteristics and
  consequences of anovulatory follicles in superovulated sheep. Domestic Animal endocrinology Feb; 30 (2); 76-78.
Hermadi HA, 2003. Ujicoba PMSG Trans Ovari untuk Kasus Hypofungsi Ovarium
              Sapi Perah. Hibah Bersaing 2003 Universitas Airlangga.
Hardjopranjoto, S., 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press,
              Surabaya
Frandson,R.D.1992.Anatomi dan fisiologi ternak. Gajah Mada University perss:
              Yogyakarta
Putro, P.P. 1996. Teknik superovulasi untuk transfer embrio pada sapi. Bull. FKH UGM XIV(1):1-20.
Sorensen, A.M. 1979. Animal Reproduction Principles and Pratices. H.C. Grow –
              Hill Book Company P. 212,346 – 353.
Lauria, A.A., A. Genazzani, O. Oliva, P. Inandi, F. Cremonesi, and C. Monitola.

1982a. Clinical and endocrinological investigations on superovulation induced in heifers by human menopausal gonadotropin (HMG). J. Reprod. Fertil. 66.219

Sabtu, 20 April 2013

kisah kita

Hey saturday?? Hari ini cerah, tetapi tidak secerah hari ku saat ini
Entah kenapa, mungkin ini hari sabtu pertama tanpa bersama kamu lagi
Kisah cinta kita mungkin singkat, tapi banyak cerita yang telah kita lalui bersama.

Berawal dari kita dipertemukan di sebuah tempat makan dan bersama teman-temanmu. Sosok yang tidak pernah aku lihat sebelumnya dikampus. Kemudian berawal dari sekre kita bersebelahan, yang entah kenapa suara bawel kamu membuatku tertawa. Membuat suasana hati ku berubah seketika. Berawal dari soal awetan, dan smsan kemudian makan bareng, semakin dekat. Itu semua singkat tapi membuatku yakin untuk menaruh rasa ini.

Berawal dari 5 bulan yang lalu, kamu menyatakan cinta ini dan bertempat di sekre pula. hahaa.. dan dengan susah payah kamu menyatakan hal itu. Cinta itu datang seketika diantara kita, dan indah bahkan sangat indah. Perjalanan kisah cinta kita pun dimulai dari sepeda. Berkeliling dengan sepeda, makan eskrim dengan sepeda, sampai lari pagi dengan sepeda. Entah berapa tempat yang sudah kita kelilingi dengan sepeda. Jangankan dengan sepeda, jalan kaki bersama pun sering kita lalui bersama. 

Perjalanan cinta kita pun penuh dengan pengorbanan, disaat kamu sibuk di Semester 5 yang katanya Neraka itu kamu selalu siap disamping aku. Bahkan kamu mengorbankan Responsi hanya untuk ngebolang bersama aku. Tidak hanya itu, disaat kamu punya agenda lain kamu pun rela meninggalkannya hanya demi aku. Dari yang ke taman kota sampai ke pantai Menganti

Perjalanan ke Menganti pun penuh dengan suka duka nya. Mengapa? karena disaat kita marahan pun kamu mau menemani aku kesana bersama teman-temanku. Saat di perjalanan pun kita kecelakaan motor. Alhamdulillah tidak ada luka yang serius, hanya saja aku miris melihat kamu terluka di tangan bahkan kakimu susah untuk berjalan. Perjalanan kesana pun tidak berhenti sampai akhirnya kita temukan pantai Menganti yang begitu indah tersebut. Canda tawapun kita lalui bersama. Setelah puas bermain main pun kta pulang. Saat pulang merupakan hal yang paling mengerikan bagiku. Karena kamu rela bawa motor yang rusak pasca kecelakaan, kondisi hujan dan kamupun yang terluka. Pengorbananmu membuat rasa sayang ini semakin besar.

Tidak hanya itu saja, Tahun baru 2013 pun bersama kamu. Malam yang indah bisa bersama kamu dan saat itu aku berdoa terimakasih karena di malam tahun baru tahun lalu 2012 aku berdoa memiliki someone special. Saat hari ulang tahun kita berdua, kita sama2 memberikan kejutan yang terbaik. Apalagi ada big kitty ini. Dan masih banyak hal lain yang membuat kisah cinta kita indah.

Seketika kisah yang indah itu mulai terasa perih disaat cinta kita ternoda oleh masa lalu mu, bahkan jalanmu pun berubah tidak searah dengan ku. Hingga pada akhirnya banyak hal yang membuatku berfikir, Membuatku tidak sabar, Membuatku tidak bisa bertahan atas semua yang kamu lakukan,Membuatku berusaha menjaga cintamu dan mempertahankan cinta kita walaupun sikapmu berubah jauh. Dari kesempatan pertama yang telah kamu sia-siakan begitu saja. Itu semua membuatku yakin untuk berhenti akan lelahnya cinta ini. Walaupun seperti ini, aku berterimakasih atas cinta yang kamu berikan, berterimakasih karena telah membuatku semakin belajar dewasa dan berterimakasih karena mungkin ini jalan yang terbaik. And the last say : I Love you...

*061112-180413

Jumat, 08 Februari 2013

makalah ilmu reproduksi ternak (semester III)


MAKALAH
ILMU REPRODUKSI TERNAK
METODE PENGUKURAN FOETUS PADA BERBAGAI HEWAN TERNAK




DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 10




1.      NANIK TRIYATI SAIMINA      D1E011247
2.      BAYU RESPATI N                       D1E011058
3.      INDAH LISTIANTI                     D1E011236
4.      SENA NURENTA                        D1E011213
5.      PUJO NUGROHO                       D1E011216
6.      KHOIRUL ZAKARIA                 D1E011245
7.      ADITYA ERYA M                       D1E011226





LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ilmu reproduksi ternak yang bertopik “Metode Pengukuran Umur Foetus Pada Berbagai Hewan Ternak
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi praktikum ilmu reproduksi, dan tersusunnya makalah ini berkat bimbingan, petunjuk, dan nasihat dari asisten yang telah mengajari penulis tentang hal yang berkaitan dengan Metode Pengukuran Umur Foetus.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan semoga paper ini dapat bermanfaat.





Purwokerto, 28 Desember 2012


                      penyusun



I.     PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, perubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode fetus.
Embrio dan foetus berkembang mengikuti suatu pola tertentu. Pada awalnya, jumlah sel meningkat diikuti oleh diferensiasi dan perkembangan berbagai system organ. Pada berbagai ternak memiliki perkiraan umur yang berbeda-beda.
Berdasarkan uraian diatas, sebagai mahasiswa pternakan sangat perlu dilakukan untuk memahami metode pengukuran umur foetus dan sebagainya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai foetus, fase foetus dan metode pengukuran umur foetus.


1.2     Perumusan Masalah
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.      Bagaimana tahap pertumbuhan foetus?
2.      Bagaimana cara menentukan umur foetus pada berbagai hewan ternak?
3.      Metode apa yang digunakan untuk menentukan umur foetus?







II. PEMBAHASAN

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (gestasi), dimulai dari saat pembuahan (fertilisasi) ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup fertilisasi, atau persatuan antara ovum dan sperma; nidasi atau implantasi, atau perkembangan membran fetus; dan berlanjut ke pertumbuhan fetus (Frandson, 1992).
 Menurut Roberts (1956) yang dimaksud periode ovum adalah periode yang dimulai dari fertilisasi sampai implantasi, sedang periode embrio dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat-alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Jadi periode fetus adalah periode yang terakhir; dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya ekstremitas, sampai lahir. Menurut Hafez (1974), pembagian ini agak sedikit berlainan. Yang dimaksud periode ovum adalah ovum yang diovulasikan sampai terjadinya fertilisasi. Dari sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode embrio; selanjutnya periode fetus. Seluruh penghidupan makhluk baru dalam uterus disebut periode embrio (Partodihardjo, 1982).
Menurut Salisbury (1985), perbedaan bentuk dan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak sapi dalam kandungan pada periode foetus sampai lahir dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Fetus (46-280 hari)
46-54
Bila diperbandingkan ukuran hati mengecil, bagian-bagian lain memanjang
60
Kelopak mata menutup
70
Pengerasan tulang-tulang
90
Timbul kelenjar rambut-rambut
100
Celah tanduk nampak
110
Mulai tumbuh gigi
150
Tumbuh rambut sekitar mata dan hidung
180
Pengerasan tulang menyeluruh
230
Tumbuh rambut sekujur tubuh
280
Lahir

Faktor-faktor foetal adalah suatu hubungan terbalik antara lama kebuntingan dan besar “litter” banyak dilaporkan pada beberapa spesies kecuali pada babi. Fetus yang banyak pada jenis hewan monotokus juga mempunyai masa kebuntingan yang lebih singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3-6 hari kurang dari anak sapi tunggal. Faktor lingkungan, perpanjangan masa kebuntingan  pada kuda sesudah perkawinan di musim dingin dinyatakan disebabkan oleh penundaan implantasi. Akan tetapi, perbedaan musim tidak mempengaruhi masa kebuntingan pada sapi perah.
Kelenjar hormon yang terlibat dalam fase kebuntingan: corpus luteum, plasenta, folikel, hipotalamus dan hipofisa. Kelenjar endokrin yang lain, misalnya thyroid, adrenal dan sebagainya merupakan kelenjar endokrin yang menunjang ke lima kelenjar endokrin yang disebutkan terlebih dahulu. Dari ke lima kelenjar endokrin yang disebut ini, kelenjar hipotalamus dan kelenjar hipofisa merupakan kelenjar pengatur, sedang yang memegang peran utama adalah korpus luteum sebagai penghasil progesteron, plasenta sebagai penghasil progesteron dan estrogen dan folikel sebagai penghasil estrogen. Peranan folikel sebagai penghasil estrogen pada waktu hewan betina dalam keadaan bunting hanya jelas pada kuda, sedangkan pada spesies lain folikel tidak tumbuh atau hanya sekali-kali dijumpai pada sapi (Partodihardjo, 1982).
Plasenta adalah suatu tenunan yang tumbuh dari embrio dan induknya,dan terjadi saat proses pertumbuhaan embrio yang diperlukan untuk menyalurkan zat makanan dari induk kepada anak,sisa makanan akan dikeluarkan ke induk.  Amnion  adalah selaput yang menylubungi fetus bagian paling dalam, chorion adalah selaput yang menyelubungi fetus bagian paling luar, alllantois adalah selaput antaraamnion dan chorion. Amnion berfungsi sebagai pelindung embrio/fetus menjadi kering, mencegah perlekatan embrio atau foetus terhadap selaput lain, dan sarana pengangkut zat makanan dan oksigen ke foetus. Alantois berfungsi sebagai kantung air kencing ekstra emrional dan sarana penampung sisa hasil metabolisme. Bentuk plasenta induk adalah endometrium uterus yang dikenal dengan Korunkula, dan bagian plasenta foetus adalah chorioallantois dikenal dengan kotiledon. (Sumaryadi, 2003)
Fetus tumbuh di bagian uterus. Nalbandov (1975), menyatakan bahwa uterus biasanya memiliki dua buah tanduk dan sebuah tubuh. Seluruh organ tersebut melekat pada dinding pinggul dan dinding perut dengan perantaraan ligamen uterus yang lebar (ligamentum lata uteri). Melalui ligamen inilah uterus menerima suplai darah dan saraf. Lapisan luar ligamentum lata uteri membentuk ligamen uterus yang melingkar (ligamentum teres uteri).  Menurut Frandson tahun 1992, uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau kornua. Proporsi relatif dari tiap-tiap bagian itu bervariasi tergantung spesies, seperti juga halnya bentuk maupun susunan tanduk-tanduk tersebut. Corpus (badan) uterus ukurannya paling besar daripada kuda, lebih kecil pada domba dan sapi, dan pada babi serta anjing, kecil saja. secara superfisial, pada uterus sapi tampak relatif lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya, karena bagian kaudal dan tanduk tergabung dengan ligamen interkornual. (Toelihere, 1981)
Hereditas. Ukuran foetus secara genetic ditentukan oleh komplemen gene-nya sendiri, komplemen gene induk dan kompetisi intrauterine dengan foetus lain. Kontribusi genetic maternal dalam variabilitas ukuran foetus jauh lebih besar daripada kontribusi paternal ; pada kenyataannya, telah diperkirakan bahwa 50-75 % variabilitas dalam berat lahir ditentukan oleh factor-faktor maternal.
Fase foetus ditentukan mulai dari terbentuknya organogenesis dan terbentuknya anggota gerak (ekstremitas) sampai foetus lahir. Tingkat perkembangan foetus saat ini telah dapat mengekstraksi zat-zat makanan dari sistem sirkulasi induk dengan perantara plasenta.
Estimasi umur foetus dalam hari = 2,5 x (CRL cm + 21) atau
Estimasi umur foetus dalam bulan = √2xCRL inches
. Penentuan umur fetus bisa dilakukan dengan metode CRL (Crown Length Rump). Menurut Toelihere (1985), gambar fetus sebagai berikut:
Keterangan : BCVRT = panjang keseluruhan fetus
                        C-R     = kepala- pangkal ekor
                        CVR    = curva kepala-pangkal ekor
                        VR      = panjang columna vertebralis
                        VRT    = panjang columna vertebralis dan ekor

Perkiraan umur fetus menurut metode pengukuran CRL
Sapi
Domba
No
Panjang C-R (cm)
Umur Fetus (bulan)
Panjang C-R (cm)
Umur Fetus
1
0,9
1
1
3 minggu
2
6-8
2
2
5 minggu
3
14-17
3
3
6 minggu
4
20
3,5
8
2 bulan
5
26
4
16
3 bulan
6
30
4,5
25
4 bulan
7
30-37
5
40-53
5 bulan
8
45
6
-
-
9
60
7
-
-
10
70-75
8
-
-
n 11
80-100
9
-
-

Foetus Domba umur 3,5- 4 bulan.                Foetus Sapi umur 3,5 bulan.
Photo-0662.jpgPhoto-0661.jpg

Pada jenis hewan monotocus, foetus terletak pada punggungnya selama kehidupannya intra uterin. Presentase anterior terjadi pada ruminansia; kaki-kai depan foetus muncul lebi dahulu denganhidung diantaranya: kepela melurus dan punggung foetus berkontak dengan sacrum induk. Presentase posterior dengan kaki belakang terlebih dahulu keluar cukup sering pada sapi (5%) untuk diaggap sebagai normal.
Pada kuda sebagian besar tubuh foetus terdapat di dalam korpus uteri, sedangkan pada sapi di koruna uteri. Walaupun demikian foetu kuda beradaa pada kedudukan yang sama pada foetus sapi. Pada babi pengeluaran foetus secara individual dari kedua koruna uteri berlangsung teratur dan dimulai pada bagian dekat cerviks.
Kriteria utama untuk menentukan umur foetus adalah waktu kopulasi dan ovulasi atau berat dan panjang foetus, suatu pengukuran diambil dari ujung hidung sampai kor melalui punggung pada suatu daratan sagital. Panjang kaki atau kepala dipakai dalam penentuan umur foetus sapi . semua metode ini dapat bervariasi karena waktu ovulasi yang tepat tidak dapat ditentukan, sedangkan pengukuran berat dan panjang foetus tergantung pada bagian bangsa,  strain, umur induk, ukuran litter dan musim kelahiran.(Salisbury,1985)
Suatu metode ideal untuk menentukan umur foetus hendaknya berpatokan pada diferensiasi dan perkembangan. Akan tetapi informasi ini tidak tersedia untuk ternak mamalia. (Salisbury 1985)
Untuk pemeriksaan umur foetus sa di rumah-rumah potong setelah induknya disembelih sering dan perlu dilakukan perkiraan umur masa kebuntingan dengan cara visual atau pengamatan.









III. KESIMPULAN

1.    Periode fetus adalah interval antara umur kebuntingan 46 hari sampai lahir (280 hari).
2.    Uterus merupakan tempat pertumbuhan fetus. Uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau cornua.
3.    Untuk mengetahui umur fetus bisa menggunakan metode CRL (Crown Rumpth Length). Metode ini dengan cara mengukur panjang dari dahi sampai pangkal ekor.
4.    Suatu metode ideal untuk menentukan umur foetus hendaknya berpatokan pada diferensiasi dan perkembangan



















DAFTAR PUSTAKA
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hafez, E.S.E. 1974. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger. Philadelphia.

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th ed. Lea and Febiger. Philadelphia.

Hunter, R.F. 1981. Fisiologi dan Anatomi Organ Reproduksi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nalbandov, A.V. 1975. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. UI Press. Jakarta.

Partodihardjo, Soebadi. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Roberts, S.J. 1956. Veteriner Observation and Genital Diseases. Edwards Brothers, inc, Ann Arbor. Michigan.

Salisbury, G. W. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Iseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Samsudewa, dkk. 2008. Uji Konsistensi, Akurasi dan Sensitivitas Deteksi Kebuntingan Ternak DEEA GestDect pada Sapi. Animal Production Vol. 10 No. 1. Hlm: 12-15. Fakultas Peternakan UNDIP. Semarang.
Sumaryadi, Mas Yedi dkk. 2003. Ilmu Reproduksi Ternak. Fapet Unsoed. Purwokerto

Toelihere, Mozes. R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung