Do the Best in your life, don't give up and keep smiling :D

Jumat, 08 Februari 2013

makalah ilmu reproduksi ternak (semester III)


MAKALAH
ILMU REPRODUKSI TERNAK
METODE PENGUKURAN FOETUS PADA BERBAGAI HEWAN TERNAK




DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 10




1.      NANIK TRIYATI SAIMINA      D1E011247
2.      BAYU RESPATI N                       D1E011058
3.      INDAH LISTIANTI                     D1E011236
4.      SENA NURENTA                        D1E011213
5.      PUJO NUGROHO                       D1E011216
6.      KHOIRUL ZAKARIA                 D1E011245
7.      ADITYA ERYA M                       D1E011226





LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2012



KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ilmu reproduksi ternak yang bertopik “Metode Pengukuran Umur Foetus Pada Berbagai Hewan Ternak
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi praktikum ilmu reproduksi, dan tersusunnya makalah ini berkat bimbingan, petunjuk, dan nasihat dari asisten yang telah mengajari penulis tentang hal yang berkaitan dengan Metode Pengukuran Umur Foetus.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dan semoga paper ini dapat bermanfaat.





Purwokerto, 28 Desember 2012


                      penyusun



I.     PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan individu baru selama kebuntingan merupakan hasil dari perbanyakan jumlah sel, pertumbuhan, perubahan susunan serta fungsi sel. Peristiwa tadi mempengaruhi perubahan-perubahan tertentu, beberapa di antaranya merupakan ciri dari tahap perkembangannya. Meskipun perkembangan anak dalam kandungan berlangsung terus menerus, namun kebuntingan kadang-kadang dinyatakan terdiri dari 3 tahap yaitu periode ovum, periode embrio dan periode fetus.
Embrio dan foetus berkembang mengikuti suatu pola tertentu. Pada awalnya, jumlah sel meningkat diikuti oleh diferensiasi dan perkembangan berbagai system organ. Pada berbagai ternak memiliki perkiraan umur yang berbeda-beda.
Berdasarkan uraian diatas, sebagai mahasiswa pternakan sangat perlu dilakukan untuk memahami metode pengukuran umur foetus dan sebagainya. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai foetus, fase foetus dan metode pengukuran umur foetus.


1.2     Perumusan Masalah
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.      Bagaimana tahap pertumbuhan foetus?
2.      Bagaimana cara menentukan umur foetus pada berbagai hewan ternak?
3.      Metode apa yang digunakan untuk menentukan umur foetus?







II. PEMBAHASAN

Kebuntingan berarti keadaan dimana anak sedang berkembang di dalam uterus seekor hewan betina. Suatu interval waktu, yang disebut periode kebuntingan (gestasi), dimulai dari saat pembuahan (fertilisasi) ovum, sampai lahirnya anak. Hal ini mencakup fertilisasi, atau persatuan antara ovum dan sperma; nidasi atau implantasi, atau perkembangan membran fetus; dan berlanjut ke pertumbuhan fetus (Frandson, 1992).
 Menurut Roberts (1956) yang dimaksud periode ovum adalah periode yang dimulai dari fertilisasi sampai implantasi, sedang periode embrio dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat-alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Jadi periode fetus adalah periode yang terakhir; dimulai dari terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam, terbentuknya ekstremitas, sampai lahir. Menurut Hafez (1974), pembagian ini agak sedikit berlainan. Yang dimaksud periode ovum adalah ovum yang diovulasikan sampai terjadinya fertilisasi. Dari sejak fertilisasi, implantasi sampai terbentuknya alat-alat tubuh bagian dalam disebut periode embrio; selanjutnya periode fetus. Seluruh penghidupan makhluk baru dalam uterus disebut periode embrio (Partodihardjo, 1982).
Menurut Salisbury (1985), perbedaan bentuk dan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak sapi dalam kandungan pada periode foetus sampai lahir dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Fetus (46-280 hari)
46-54
Bila diperbandingkan ukuran hati mengecil, bagian-bagian lain memanjang
60
Kelopak mata menutup
70
Pengerasan tulang-tulang
90
Timbul kelenjar rambut-rambut
100
Celah tanduk nampak
110
Mulai tumbuh gigi
150
Tumbuh rambut sekitar mata dan hidung
180
Pengerasan tulang menyeluruh
230
Tumbuh rambut sekujur tubuh
280
Lahir

Faktor-faktor foetal adalah suatu hubungan terbalik antara lama kebuntingan dan besar “litter” banyak dilaporkan pada beberapa spesies kecuali pada babi. Fetus yang banyak pada jenis hewan monotokus juga mempunyai masa kebuntingan yang lebih singkat. Anak sapi kembar berada dalam kandungan 3-6 hari kurang dari anak sapi tunggal. Faktor lingkungan, perpanjangan masa kebuntingan  pada kuda sesudah perkawinan di musim dingin dinyatakan disebabkan oleh penundaan implantasi. Akan tetapi, perbedaan musim tidak mempengaruhi masa kebuntingan pada sapi perah.
Kelenjar hormon yang terlibat dalam fase kebuntingan: corpus luteum, plasenta, folikel, hipotalamus dan hipofisa. Kelenjar endokrin yang lain, misalnya thyroid, adrenal dan sebagainya merupakan kelenjar endokrin yang menunjang ke lima kelenjar endokrin yang disebutkan terlebih dahulu. Dari ke lima kelenjar endokrin yang disebut ini, kelenjar hipotalamus dan kelenjar hipofisa merupakan kelenjar pengatur, sedang yang memegang peran utama adalah korpus luteum sebagai penghasil progesteron, plasenta sebagai penghasil progesteron dan estrogen dan folikel sebagai penghasil estrogen. Peranan folikel sebagai penghasil estrogen pada waktu hewan betina dalam keadaan bunting hanya jelas pada kuda, sedangkan pada spesies lain folikel tidak tumbuh atau hanya sekali-kali dijumpai pada sapi (Partodihardjo, 1982).
Plasenta adalah suatu tenunan yang tumbuh dari embrio dan induknya,dan terjadi saat proses pertumbuhaan embrio yang diperlukan untuk menyalurkan zat makanan dari induk kepada anak,sisa makanan akan dikeluarkan ke induk.  Amnion  adalah selaput yang menylubungi fetus bagian paling dalam, chorion adalah selaput yang menyelubungi fetus bagian paling luar, alllantois adalah selaput antaraamnion dan chorion. Amnion berfungsi sebagai pelindung embrio/fetus menjadi kering, mencegah perlekatan embrio atau foetus terhadap selaput lain, dan sarana pengangkut zat makanan dan oksigen ke foetus. Alantois berfungsi sebagai kantung air kencing ekstra emrional dan sarana penampung sisa hasil metabolisme. Bentuk plasenta induk adalah endometrium uterus yang dikenal dengan Korunkula, dan bagian plasenta foetus adalah chorioallantois dikenal dengan kotiledon. (Sumaryadi, 2003)
Fetus tumbuh di bagian uterus. Nalbandov (1975), menyatakan bahwa uterus biasanya memiliki dua buah tanduk dan sebuah tubuh. Seluruh organ tersebut melekat pada dinding pinggul dan dinding perut dengan perantaraan ligamen uterus yang lebar (ligamentum lata uteri). Melalui ligamen inilah uterus menerima suplai darah dan saraf. Lapisan luar ligamentum lata uteri membentuk ligamen uterus yang melingkar (ligamentum teres uteri).  Menurut Frandson tahun 1992, uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau kornua. Proporsi relatif dari tiap-tiap bagian itu bervariasi tergantung spesies, seperti juga halnya bentuk maupun susunan tanduk-tanduk tersebut. Corpus (badan) uterus ukurannya paling besar daripada kuda, lebih kecil pada domba dan sapi, dan pada babi serta anjing, kecil saja. secara superfisial, pada uterus sapi tampak relatif lebih besar dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya, karena bagian kaudal dan tanduk tergabung dengan ligamen interkornual. (Toelihere, 1981)
Hereditas. Ukuran foetus secara genetic ditentukan oleh komplemen gene-nya sendiri, komplemen gene induk dan kompetisi intrauterine dengan foetus lain. Kontribusi genetic maternal dalam variabilitas ukuran foetus jauh lebih besar daripada kontribusi paternal ; pada kenyataannya, telah diperkirakan bahwa 50-75 % variabilitas dalam berat lahir ditentukan oleh factor-faktor maternal.
Fase foetus ditentukan mulai dari terbentuknya organogenesis dan terbentuknya anggota gerak (ekstremitas) sampai foetus lahir. Tingkat perkembangan foetus saat ini telah dapat mengekstraksi zat-zat makanan dari sistem sirkulasi induk dengan perantara plasenta.
Estimasi umur foetus dalam hari = 2,5 x (CRL cm + 21) atau
Estimasi umur foetus dalam bulan = √2xCRL inches
. Penentuan umur fetus bisa dilakukan dengan metode CRL (Crown Length Rump). Menurut Toelihere (1985), gambar fetus sebagai berikut:
Keterangan : BCVRT = panjang keseluruhan fetus
                        C-R     = kepala- pangkal ekor
                        CVR    = curva kepala-pangkal ekor
                        VR      = panjang columna vertebralis
                        VRT    = panjang columna vertebralis dan ekor

Perkiraan umur fetus menurut metode pengukuran CRL
Sapi
Domba
No
Panjang C-R (cm)
Umur Fetus (bulan)
Panjang C-R (cm)
Umur Fetus
1
0,9
1
1
3 minggu
2
6-8
2
2
5 minggu
3
14-17
3
3
6 minggu
4
20
3,5
8
2 bulan
5
26
4
16
3 bulan
6
30
4,5
25
4 bulan
7
30-37
5
40-53
5 bulan
8
45
6
-
-
9
60
7
-
-
10
70-75
8
-
-
n 11
80-100
9
-
-

Foetus Domba umur 3,5- 4 bulan.                Foetus Sapi umur 3,5 bulan.
Photo-0662.jpgPhoto-0661.jpg

Pada jenis hewan monotocus, foetus terletak pada punggungnya selama kehidupannya intra uterin. Presentase anterior terjadi pada ruminansia; kaki-kai depan foetus muncul lebi dahulu denganhidung diantaranya: kepela melurus dan punggung foetus berkontak dengan sacrum induk. Presentase posterior dengan kaki belakang terlebih dahulu keluar cukup sering pada sapi (5%) untuk diaggap sebagai normal.
Pada kuda sebagian besar tubuh foetus terdapat di dalam korpus uteri, sedangkan pada sapi di koruna uteri. Walaupun demikian foetu kuda beradaa pada kedudukan yang sama pada foetus sapi. Pada babi pengeluaran foetus secara individual dari kedua koruna uteri berlangsung teratur dan dimulai pada bagian dekat cerviks.
Kriteria utama untuk menentukan umur foetus adalah waktu kopulasi dan ovulasi atau berat dan panjang foetus, suatu pengukuran diambil dari ujung hidung sampai kor melalui punggung pada suatu daratan sagital. Panjang kaki atau kepala dipakai dalam penentuan umur foetus sapi . semua metode ini dapat bervariasi karena waktu ovulasi yang tepat tidak dapat ditentukan, sedangkan pengukuran berat dan panjang foetus tergantung pada bagian bangsa,  strain, umur induk, ukuran litter dan musim kelahiran.(Salisbury,1985)
Suatu metode ideal untuk menentukan umur foetus hendaknya berpatokan pada diferensiasi dan perkembangan. Akan tetapi informasi ini tidak tersedia untuk ternak mamalia. (Salisbury 1985)
Untuk pemeriksaan umur foetus sa di rumah-rumah potong setelah induknya disembelih sering dan perlu dilakukan perkiraan umur masa kebuntingan dengan cara visual atau pengamatan.









III. KESIMPULAN

1.    Periode fetus adalah interval antara umur kebuntingan 46 hari sampai lahir (280 hari).
2.    Uterus merupakan tempat pertumbuhan fetus. Uterus ternak yang tergolong mamalia terdiri  dari corpus (badan), serviks (leher), dan dua tanduk atau cornua.
3.    Untuk mengetahui umur fetus bisa menggunakan metode CRL (Crown Rumpth Length). Metode ini dengan cara mengukur panjang dari dahi sampai pangkal ekor.
4.    Suatu metode ideal untuk menentukan umur foetus hendaknya berpatokan pada diferensiasi dan perkembangan



















DAFTAR PUSTAKA
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hafez, E.S.E. 1974. Reproduction in Farm Animals. Lea and Febiger. Philadelphia.

Hafez, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th ed. Lea and Febiger. Philadelphia.

Hunter, R.F. 1981. Fisiologi dan Anatomi Organ Reproduksi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Nalbandov, A.V. 1975. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. UI Press. Jakarta.

Partodihardjo, Soebadi. 1982. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Roberts, S.J. 1956. Veteriner Observation and Genital Diseases. Edwards Brothers, inc, Ann Arbor. Michigan.

Salisbury, G. W. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Iseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Samsudewa, dkk. 2008. Uji Konsistensi, Akurasi dan Sensitivitas Deteksi Kebuntingan Ternak DEEA GestDect pada Sapi. Animal Production Vol. 10 No. 1. Hlm: 12-15. Fakultas Peternakan UNDIP. Semarang.
Sumaryadi, Mas Yedi dkk. 2003. Ilmu Reproduksi Ternak. Fapet Unsoed. Purwokerto

Toelihere, Mozes. R. 1977. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar